Heyaa...ini tampilan antologi keduaku. Sebelumnya sudah pernah saya posting nih tentang lolosnya saya dalam penulisan antologi ini. Tapi baru sekarang saya sempat upload bentuk bukunya.
Buku Facebokisme ini berisi tentang beragam tulisan para penghuni facebook di notesnya. Banyak kan notes-notes yang bertebaran di facebook tapi belum sempat terbaca semua. Oleh karena itu, Ilmi Publisher, selaku pihak penyelenggara antologi buku ini menyelenggarakan event penulisan antologi buat para penghuni facebook. Berhubung saya mempunyai beberapa notes facebook, saya pun ikutan. Alhasil, dari sekian banyak orang yang ikut yang pastinya banyak banget yang punya cerita menarik, saya pun terpilih masuk ke dalam 30 besar. Dan ketiga puluh orang ini pun berhak tulisannya untuk dibukukan.
Well...alhamdulillah :)
Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Maret 2015
Antologi Pertamaku: Colorful Of Love
Alhamdulillah antologi Cerpen "Colorful Of Love". Kumpulan cerpen berkisah lika liku cinta. Kisah yang sangat menyentuh yang bisa membuat kita berderai air mata, juga kisah yang membuat kita menanggung iri karena keromatisannya. Namun lebih dari itu, terdapat juga cerpen yang penuh hikmah kehidupan.
Antologi ini adalah antologi pertamaku. Saat itu saya sedang gemes-gemesnya dikejar waktu, karena proposal skripsi saya sudah mepet sekali. Alhasil, kepala saya pusing minta ampun. Makanya saya mencari pelarian, salah satunya dengan menulis cerpen. Alhamdulillah nasib baik sedang datang, rupanya ada beberapa kawan di facebook juga sedang berniat membuat antologi. Jadi, akhirnya saya dan teman-teman saya ini pun ikutan seleksinya. Yes! Terbit juga. Walau masih jauh dari kata sempurna. Setidaknya ada langkah yang sudah dimulai. Dan yang pasti pusing kepala saya juga hilang.
Senin, 18 Agustus 2014
Universitas Terbuka
Padu Padan Teknologi, Keterbukaan dan Pengawasan
"...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat..." (Q.S. Al Mujadalah : 11)
Lanjut kuliah atau bekerja dulu ya? Itulah pertanyaan mainstream yang kerap melekat di benak para calon lulusan sekolah menengah atas. Kegalauan yang merebak dimana-mana kala ujian nasional berakhir dan pengumuman kelulusan tinggal menghitung jari. Tidak seperti lulusan dari sekolah menengah kejuruan yang sedari awal memang disiapkan secara mental untuk bekerja setelah lulus. Umumnya lulusan SMA banyak yang melanjutkan kuliah baik yang murni dan sesuai dengan pilihannya maupun yang asal masuk dan ketampung biar tidak disangka pengangguran. Tapi tahukah kalau ternyata pengangguran terbuka di Indonesia ini masih cukup tinggi?
Menurut data dari BPS, di tahun 2012 angka pengangguran terbuka untuk usia produktif 15-24 tahun saja sebesar 15,24 naik 0,8 dari tahun 2011 yang hanya sebesar 14,40. Di usia ini, seharusnya generasi muda melanjutkan pendidikannya ke tingkat atas. Baik dengan kuliah maupun kursus yang setidaknya akan memberikan nilai tambah ketrampilan sehingga menunjang kemampuannya untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan. Tapi, lagi-lagi jika kita berbicara mengenai pendidikan di negeri ini, tidak akan terlepas dari kendala yang senantiasa hadir dan menjadi penghalang pemerataan pendidikan di negara tercinta ini. Mulai dari akses, biaya termasuk dilema untuk membantu keluarga dengan bekerja. Apalagi di pelosok daerah yang notabene jauh dari pantauan pusat. Jangankan untuk niat melanjutkan ke pendidikan tinggi seperti kuliah. Untuk wajib belajar saja mungkin masih banyak yang terkatung-katung dan masa bodoh, toh pada akhirnya mencari uang adalah tujuan utama untuk bertahan hidup.
Terlepas dari masih belum sempurnanya wajar (wajib belajar) di beberapa titik di daerah dan pilihan bekerja setelah lulus SMA, keinginan melanjutkan ke perguruan tinggi juga terhambat dengan ketidakflexibelan jam belajar yang mungkin harus mengorbankan jam seseorang untuk mencari penghasilan. Semakin seseorang berkutat dengan pekerjaan semakin sulit ia dalam membagi badan di dua tempat jika harus belajar dan kuliah secara reguler. Kuliah sabtu minggu untuk karyawan pun tidak selalu menjadi solusi efektif untuk mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan. Alih-alih mendapat pengetahuan baru, tujuan seseorang melanjutkan kuliah pun mungkin tidak lebih dari sekedar menambah titel di nama mereka agar mendapatkan kenaikan gaji atau pangkat. Belum lagi untuk para pencari ilmu yang sudah kena deadline, malot (mahasiswa kolot) yang usianya jauh di atas usia mahasiswa yang seharusnya ada dalam satu angkatan.
Baiklah, mari kesampingkan semua kemungkinan motif yang hadir bagi seseorang dalam melanjutkan pendidikannya. Intinya tetap saja seseorang yang sungguh-sungguh dan mau untuk belajar pastinya akan berbeda dengan orang yang masih stagnan di tempat yang sama. Karena kesuksesan itu dirintis dengan karakter dan karakter itu dibentuk dengan pendidikan.
Nah, merujuk dari berbagai hal itulah dicarilah sebuah solusi cerdas yang juga memihak para pencari ilmu yang sedang kesulitan membagi badan di dua tempat dan tidak mau atau tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Dibentuknya Universitas Terbuka (UT) pada tanggal 4 September 1984, memberikan angin segar bagi para pencari ilmu. Karena baik yang di pelosok daerah, sibuk ataupun usianya sudah tidak memenuhi syarat lagi jika harus kuliah di tempat reguler semua bisa dilakukan di UT.
sumber: simply-sunday.blogspot.com
Gambar dalam bentuk 3D bisa dilihat di http://www.ut.ac.id/unit/3d/ (untuk yang sudah terinstall Google Earth plug-in).
Universitas Terbuka (UT) dan Teknologi
Universitas Terbuka ini dulu lebih dikenal dengan sebutan kuliah jarak jauh. Kepeloporan kuliah ini sebetulnya bukan hal baru lagi di bidang pendidikan. Awal dari kuliah jarak jauh ini sudah ada sejak seratus tahun yang lalu di Eropa dalam bentuk korespondensi (http://www.westga.edu/~distance/ojdla/fall53/valentine53.html). Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi, pendidikan pun mengalami penyesuaian agar bisa mengiringi kemajuannya dan memanfaatkan teknologi sebagai salah satu alat penyampaiannya. Jika di kuliah reguler, mahasiswanya datang dan bertatap muka setiap saat dan kelihatan statusnya sebagai mahasiswa, maka di UT bisa dikatakan mahasiswanya antara ada dan tiada. Dosennya pun tidak berdiri di depan kelas setiap saat. Awalnya sangat ganjil memang, namun sangat flexibel. Kita tidak akan pusing tujuh keliling dengan jam kelas dan pakaian yang harus dikenakan (umumnya wanita sangat concern sama penampilan). Tambah lagi biaya irit, karena ongkos pulang pergi kuliah hampir no cost alias ga ada biaya. Semua bahan ajar terbagi dua jenis : diberikan dalam bentuk softcopy yang dikirim via web maupun email pribadi ada juga yang berupa modul. Contohnya bisa dilihat di salah satu koleksi pustaka ut http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/ebook/283/283.html.
Saya sendiri sesungguhnya sangat menyayangkan keputusan saya berhenti dari UT waktu itu karena ingin fokus di seleksi ikatan dinas. Namun ya, setidaknya saat ini saya masih menomorsatukan UT dibandingkan harus main masuk kuliah saja walaupun swasta. Tahukah kalau kita mengajukan lamaran beasiswa ke luar negeri, UT lebih diunggulkan dibanding universitas swasta? Karena di luar negeri, UT dianggap mampu mencetak orang yang berkomitmen tinggi dengan disiplin yang mumpuni untuk menghandle semua jadwal SKS yang harus diselesaikan disela-sela rutinitas pekerjaan mereka. Plus output lulusan UT ini tidak jauh berbeda dan mungkin lebih unggul dibandingkan yang kuliah reguler. Bahkan di tahun 2012 sebanyak 1628 orang sarjana lulusan UT Surabaya bahkan lulus dan ijazahnya bisa digunakan dalam sertifikasi guru (http://www.tribunnews.com/regional/2012/09/12/1.628-sarjana-ut-terima-ijazah-langsung-untuk-sertifikasi).
Kemudahan yang diberikan UT juga terlihat dari tidak perlunya mahasiswa antri di depan bagian administrasi akademik demi hanya untuk mengurusi kontrak SKS. Cukup dengan login, klik dan kontrak semua permasalah mulai dari administrasi, kontrak, nilai dan tugas langsung selesai.
Untuk lebih lanjut tentang UT, visi misi maupun cara pembelajaran bisa dilhat di www.ut.ac.id.
Masalah dalam Universitas Terbuka
Disamping banyaknya keuntungan yang ada dengan hadirnya UT, terdapat beberapa hal yang menjadi unek-unek untuk diselesaikan. yaitu:
1. Kemampuan Melek Internet
Tidak dapat dipungkiri, melek huruf, melek statistik dan melek internet masih menjadi PR besar di negara ini. Kecanggihan teknologi yang ada saat ini rupanya tidak dibarengi dengan pemerataan kemampuan untuk melek teknologi. Masih banyak orang yang asing dengan komputer, apalagi para mahasiswa "senior" yang mungkin di zaman mereka muda dulu bahkan kalkulator masih sebesar tempat pensil. Malah yang lebih buruk kadangkala internet masih disalahgunakan sebagai ajang plagiat. Kemudahan dengan adanya bahan ajar ebook membuat mahasiswanya malas mencatat dan mengandalkan copy paste untuk merampungkan tugasnya. Sehingga saat pengumpulan tugas seperti artikel maupun sejenisnya, akan banyak pekerjaan untuk meneliti apakah tulisan tersebut betul-betul ditulis dengan kemampuan sendiri atau bukan.
2. Masih Menjamurnya Joki
Joki alias orang bayaran kala ujian ternyata kerap ditemukan sewaktu ujian berlangsung di daerah. Kelas jarak jauh yang membuat lokasi ujian pun jauh dari pantauan UT pusat. Jumlah pengawas pusat yang diutus dalam jumlah terbatas dan kelihaian penyelenggara daerah dalam ujian menjadi sebuah tantangan tersendiri agar ada pengawasan yang lebih ketat sehingga kualitas hasil ujian komperhensif memang valid, jujur dan bersih.
3. Ikatan antara Mahasiswa dan Dosen
Kedudukan dosen yang sudah berubah di mata mahasiswa begitu pula sebaliknya harus menjadi catatan penting, karena di saat tatap muka sudah tidak pernah dilakukan, dosen tak akan pernah tahu sejauh mana proses mengajarnya terserap dengan baik oleh para mahasiswanya. Begitu juga para mahasiswa, dia tidak akan pernah merasa diperhatikan oleh dosennya sejauh nilai keluar dan baik-baik saja. Sejauh ini masih sedikit mahasiswa yang memutuskan untuk mengambil tutorial dengan tatap muka bersama dosen. Nilai belajar mengajar pun bergeser sedikit demi sedikit.
Banyak hal memang yang masih menjadi tantangan dalam terselenggaranya kegiatan perkuliahan Universitas Terbuka (UT) yang sukses mencetak generasi unggul yang bertambah mulia derajatnya karena mencari ilmu bukan hanya gelar. Tentu saja kerja sama yang baik antara penyelenggara (UT), dosen dan mahasiswa sangat dibutuhkan. Harapan itu ada dan perbaikan itu niscaya. Tinggal memulainya sedikit demi sedikit dari sekarang. Overall, Universitas Terbuka tetap menjadi yang terbaik dalam memberikan solusi bagi orang mau tapi tidak mampu dari segi waktu, biaya dan usia. Terakhir, selamat ulang tahun yang ke-30 bagi Universitas Terbuka (UT) semoga tetap jaya !
"Tulisan in dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-30. Tulisan ini adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan"
Kemudahan yang diberikan UT juga terlihat dari tidak perlunya mahasiswa antri di depan bagian administrasi akademik demi hanya untuk mengurusi kontrak SKS. Cukup dengan login, klik dan kontrak semua permasalah mulai dari administrasi, kontrak, nilai dan tugas langsung selesai.
Untuk lebih lanjut tentang UT, visi misi maupun cara pembelajaran bisa dilhat di www.ut.ac.id.
Masalah dalam Universitas Terbuka
Disamping banyaknya keuntungan yang ada dengan hadirnya UT, terdapat beberapa hal yang menjadi unek-unek untuk diselesaikan. yaitu:
1. Kemampuan Melek Internet
Tidak dapat dipungkiri, melek huruf, melek statistik dan melek internet masih menjadi PR besar di negara ini. Kecanggihan teknologi yang ada saat ini rupanya tidak dibarengi dengan pemerataan kemampuan untuk melek teknologi. Masih banyak orang yang asing dengan komputer, apalagi para mahasiswa "senior" yang mungkin di zaman mereka muda dulu bahkan kalkulator masih sebesar tempat pensil. Malah yang lebih buruk kadangkala internet masih disalahgunakan sebagai ajang plagiat. Kemudahan dengan adanya bahan ajar ebook membuat mahasiswanya malas mencatat dan mengandalkan copy paste untuk merampungkan tugasnya. Sehingga saat pengumpulan tugas seperti artikel maupun sejenisnya, akan banyak pekerjaan untuk meneliti apakah tulisan tersebut betul-betul ditulis dengan kemampuan sendiri atau bukan.
2. Masih Menjamurnya Joki
Joki alias orang bayaran kala ujian ternyata kerap ditemukan sewaktu ujian berlangsung di daerah. Kelas jarak jauh yang membuat lokasi ujian pun jauh dari pantauan UT pusat. Jumlah pengawas pusat yang diutus dalam jumlah terbatas dan kelihaian penyelenggara daerah dalam ujian menjadi sebuah tantangan tersendiri agar ada pengawasan yang lebih ketat sehingga kualitas hasil ujian komperhensif memang valid, jujur dan bersih.
3. Ikatan antara Mahasiswa dan Dosen
Kedudukan dosen yang sudah berubah di mata mahasiswa begitu pula sebaliknya harus menjadi catatan penting, karena di saat tatap muka sudah tidak pernah dilakukan, dosen tak akan pernah tahu sejauh mana proses mengajarnya terserap dengan baik oleh para mahasiswanya. Begitu juga para mahasiswa, dia tidak akan pernah merasa diperhatikan oleh dosennya sejauh nilai keluar dan baik-baik saja. Sejauh ini masih sedikit mahasiswa yang memutuskan untuk mengambil tutorial dengan tatap muka bersama dosen. Nilai belajar mengajar pun bergeser sedikit demi sedikit.
Banyak hal memang yang masih menjadi tantangan dalam terselenggaranya kegiatan perkuliahan Universitas Terbuka (UT) yang sukses mencetak generasi unggul yang bertambah mulia derajatnya karena mencari ilmu bukan hanya gelar. Tentu saja kerja sama yang baik antara penyelenggara (UT), dosen dan mahasiswa sangat dibutuhkan. Harapan itu ada dan perbaikan itu niscaya. Tinggal memulainya sedikit demi sedikit dari sekarang. Overall, Universitas Terbuka tetap menjadi yang terbaik dalam memberikan solusi bagi orang mau tapi tidak mampu dari segi waktu, biaya dan usia. Terakhir, selamat ulang tahun yang ke-30 bagi Universitas Terbuka (UT) semoga tetap jaya !
"Tulisan in dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-30. Tulisan ini adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan"
Minggu, 10 Maret 2013
Alhamdulillah lolos juga di event tulisan
Mau sombong dikit ceritanya nih hihihi...setelah lama menunggu, akhirnya ketika buka inbox fb sore ini ada yang nangkring kring dan bikin senyum lebar sepanjang 10 cm. Alhamdulillah, event lomba menulis yang diadakan oleh Ilmi Publisher lolos juga ke tahap 30 terbaik dan dapat e-sertifikat. Jadi makin menggebu-gebu lagi menulis. Nih kayak ini bentuk e-sertifikatnyanya....
Sabtu, 29 Desember 2012
Pentingnya Air Sehat Bukan Hanya Bersih
Selama ini kita sering mendengar air sebagai sumber daya yang terbarui. Oleh karena itu, semestinya air merupakan sumber daya alam yang sangat mudah dan murah untuk didapatkan. Tapi, tahukah kawan, seberapa sering kita pun mendengar banyak dari saudara kita yang kurang beruntung, berdasarkan kontur lahan maupun akses, sangat kesulitan mendapatkan pasokan air terutama air bersih. Banyak dari teman kita malah berjuang berkilo-kilo hanya untuk membawa dua ember kecil air bersih yang akan digunakan untuk keperluan memasak, mencuci, mandi bahkan minum.
Itu baru yang kesulitan secara akses, karena kontur lahan yang pegunungan dan perbukitan. Sekarang di kota besar, semestinya air menjadi sesuatu yang mudah didapatkan. Dilihat dari akses kepada sarana dan prasarana, wilayah perkotaan ataupun wilayah yang memang sudah mendapatkan infrastruktur yang baik, air semestinya menjadi barang mudah secara fasilitas dan murah secara ekonomi.
Hm, jangan salah, justru di kota inilah air bersih malah menjadi sebuah hal yang sangat mahal. Kenapa? Karena di kota besar air malah menjadi barang yang diperdagangkan. Mulai dari air PAM sampai air kemasan. Apa sebab? Semua itu karena kondisi air yang ada di perkotaan mempunyai kandungan yang justru tidak lebih baik dibandingkan air yang berada di wilayah-wilayah pegunungan dan pedesaan. Adanya polusi tanah, kepentingan industri minuman, dan lain sebagainya, membuat kondisi air tanah dan air bawah tanah menjadi sesuatu yang rentan untuk dikonsumsi. Jangankan untuk diminum untuk dipakai mandi saja kita harus pikir dua kali. Secara kasat mata, lihat saja air sungainya, sungguh hitam dan berbau.Di pedesaan dan wilayah yang belum ramai oleh penduduk dan industri, sungai yang berair cokelat masih dibilang lebih baik karena tidak mempunyai kandungan logam berat yang membahayakan tubuh manusia.
Salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Athena (1996) menunjukkan 41,5 % sampel air di Jakarta mengandung Merkuri (Hg) berlebih, 25,4 % sampel air di Bogor mengandung Kadmium (Cd) berlebih, dan 41,1 % sampel air di Bogor mengandung Timbal (Pb) berlebih. Kandungan logam berat pada air minum Bogor dan Jakarta lebih tinggi dibandingkan Bekasi dan Tangerang.
Nah, terlihat kan betapa kita harus berhati-hati dalam mengkonsumsi air minum. Sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan air, maka konsumsi air pun harus diperhatikan terutama untuk air minum yang notabene akan menjadi emulsifier dalam setiap metabolisme yang terjadi dalam sel tubuh kita.
Cara tradisional yang mungkin pernah teman-teman ketahui adalah dengan filter alami. Ingatkah pelajaran sewaku di Sekolah Menengah Pertama (SMP) ? Cukup dengan batu kerikil, sabut dan pasir, setidaknya air sungai yang tadinya berwarna bisa lebih jernih. Namun, tentu saja semua filterisasi tradisional tersebut tidak akan mematikan zat-zat dan bakteri yang tidak diinginkan. Maka dari itu, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memurnikannya (pure it).
Seiring dengan perkembangan teknologi, kini sudah hadir alat yang mampu membantu kita dalam memurnikan air tersebut. Istilah yang sering kita dengar adalah water purifier. Alat ini tidak hanya membuat air lebih jernih sehingga bisa dipakai tapi juga bisa langsung diminum. Bagaimanapun investasi kesehatan memang suatu hal yang tidak bisa dianggap remeh dan murah. Untuk tetap menjaga kelestarian air minum, dibutuhkan peran serta berbagai pihak, mulai dari menjaga hutan, penanganan sampah, konsumsi air yang tidak berlebihan dan yang terpenting adalah kesadaran untuk mengolah air yang didapatkan tadi sehingga bebas dari zat-zat yang tmembahayakan.
Sumber Gambar : http://d-copy.blogspot.com/2012/12/kelestarian-sumber-air-minum.html
Referensi :
Wikipedia.org
http://www.studymode.com/essays/Bahaya-Logam-Berat-Dalam-Air-609541.html
Minggu, 09 Desember 2012
There is Support, There is a Will
Niatnya sih googling semua hal tentang Korea, eh akhirnya saya jumpa pula sama yang namanya blog emak keren hehe...itu loh blognya Mb Erry yang menurut saya ruarr biasa. Tadinya saya pikir isi blognya pasti ga jauh-jauh sama yang namanya masak memasak, biasanya kan ibu-ibu senengnya masak. Eh ga taunya di bawah foto keluarga ada 2PM haha...unik memang. Sip, saya udah ketemu sama blogger emak yang mantap abis ^^. Dan sangat kebetulan banget, ternyata blognya Mb Erry lagi ngadain GiveAway dengan semua hadiahnya yang bikiiiiiiiin ngiler. Syaratnya cuma satu, saya harus bikin postingan tentang tulisannya Mba Erry yang ada di blog dia. Ya sudah mari melesaaaaaaaat....
Postingan Paling Superb Versi Ane
Apa ya? Banyak kan postingan Mb Erry yang menarik, tapi kayaknya minat kita sama deh Mb hehe (sok tau gitu). Saya suka Korea dan pernak perniknya. Makanya lagu pengiring blog Bibi Titi Teliti klik banget sama saya :p. Tau kan kalo kamu2 pecinta telor asin yang masin terus ketemu sama si telor masin dalam jumlah banyak? Apa reaksimu? " Wooooooow...MEMESONA ! " *mari kesampingkan semua sebutan alay haha....
Akhirnya, dengan semua pertimbangan itulah saya pilih postingan Mb Ery yang berjudul " Welcome To Gangnam !"
I love Korea and wish i'll be there someday. Karena itulah waktu nemu postingan itu setidaknya saya udah dapat gambaran mengenai salah satu daerah di Korea yang konon katanya sangat High Class. Haduuh, mupeng banget sama pengalamannya Mb Erry. Sewaktu acara Korean Indonesian Week aja saya baru tahu kalo pengen tour ke sana harus rogoh kocek sampai 13 jutaan *rogoh kantong penuh kegalauan, ibu kosan nunggu pembayaaran :'(
Nah, dan ternyata memang kalo yang namanya liburan tuh mesti punya doku. Untung di postingan Mb Erry tuh dijelasin sebanyak apa cemilan yang bisa dibeli dengan 45.000 won.
Jadi tau kan, untung deh. Nanti kalo ada rezeki ke Korea saya bakal bawa banyak cemilan, termasuk gehu, si kojek sama wafer favorit saya. *sorry to reveal my ordinary side :p
Saya juga jadi terinspirasi buat ke sana. Apalagi di postingannya tu ga pelit foto. Tahu kan kalo foto tuh bisa bercerita segalanya. Dan yang paling penting dari apa yang ada di tulisan itu tuh satu.
Orang yang mimpinya sukses itu memang tak lepas dari pertolongan orang lain yang ada di belakangnya, samping kiri kanannya, dan tentu aja Allah yang maha membuat kejutan
Saya yakin, karena Mb Erry ga bakalan bisa ke sana kalo ga didukung sama keluarganya, teman-teman yang bersamanya dan juga panitia yang mengurusnya. So nice to be someone with kind people around us.
Dan lagi-lagi, postingan itu membuat saya ngakak. Ternyata dari sekian banyak hal yang sempurna dan memesona di Korea menurut Mb Erry, toiletlah yang GAK BANGET.
Haha....ternyata modernisasi ga selamanya membuat nyaman. Menggerakkan badan itu menyehatkan dari pada cuma pencet tombol sana sini. Sama kok Mb, dari lahir saya udah kenalan sama gayung.
Hm....rasanya seneeeeeng banget kalo jadi seseorang yang mampu mewujudkan mimpinya orang lain, karena menurut hukum aksi rekasi persodakohan, siapa yang memberi pastilah bakalan diberi. Kayak Mb Erry ini yang bakalan ngasih GiveAway, pasti dikasih lagi. Apalagi kalu GA gadgetnya tuh dikasih sama saya *modus operandi detected :p.
Overall, saya seneng banget sama tulisan-tulisannya Bibi Titi Teliti. Mau kritikan? kasih tau ga ya? Hm....saya rasa ga ada deh, 'coz it's so humble. Pokoknya jangan kapok2 sharing Mb kalo lagi jalan-jalan pun kalo lagi jalan deket rumah (warteg ma warung ga termasuk haha...just kidding).
Salam Kenal Mb, salam buat Kayla ma Fathir ^^
Sumber Foto: http://erryandriyati.blogdetik.com
Aku dan Hujan
Apakah kau tahu
Setiap rintik hujan
Membuat irama yang padu
Membawa pesan rindu yang tulus
Dari percik sepiku untukmu
Depok, 9 Desember 2012
Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi
Setiap rintik hujan
Membuat irama yang padu
Membawa pesan rindu yang tulus
Dari percik sepiku untukmu
Depok, 9 Desember 2012
Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)








