Halo semuanya, perkenalkan dulu ya, saya adalah pemilik blog ini.
Nama saya Mira Febriana, saat ini sedang aktif bekerja di sebuah instansi pemerintah di bidang pelayanan data. Sampai tulisan ini dibuat, saya juga aktif dalam bisnis online yang banyak bentuknya. Namun, tiga bulan terakhir ini saya sedang fokus dalam satu bisnis yang alhamdulillah sudah memberikan banyak manfaat dalam rentang waktu 3 bulan baik dari segi materi maupun perkembangan personal.
Saya yakin, apa yang kita tabur maka itulah yang kita tuai. Karena itulah, isi dari blog ini saya harap mampu memberikan manfaat, hikmah dan informasi yang juga mampu membuat orang yang membacanya bisa ikut dalam 'estafet kebaikan'. Apalagi kalau estafet itu yang bisa meningkatkan taraf kesejahteraan para pembacanya...aamiin. Selain itu, blog ini adalah salah satu tempat untuk saya bercerita dari sekian banyak kegiatan yang terjadi sehari-hari.
Selamat membaca dan mengambil informasi yang bermanfaat dari blog ini. Silahkan berkomentar dengan santun dan kontak saya bila ada yang perlu ditanyakan.
Salam,
Mira Febriana
-Man Jadda, Wajada-
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Maret 2015
Sabtu, 07 Februari 2015
Yang Digaji, Yang dikritik, Yang Ikhlas
Beberapa minggu belakangan ini ada obrolan hangat dan seru setiap saya dan teman-teman berkumpul di sabtu sore. Dimana kami biasa bertatap muka setiap minggunya. Topiknya sih ngalor ngidul dan salah satu yang dibahas mengenai aturan ASN (Aparatur Sipil Negara). Kawan saya ini bercerita mengenai wacana penghapusan salah satu tunjangan pegawai negeri yang disayangkan oleh dirinya. Hm....saya sebagai pendengar yang baik (as always...) mencoba menghubungkan dan memilah informasi tersebut. Tentu saja info tersebut belum pasti kebenarannya karena saya sendiri belum membaca isi UU nya. Tapi karena seringkali ada yang nyerempet ini, jadi kepikiran juga sih. Secara saya juga salah satu dari yang kemungkinan besar bakal kena aturan tersebut.
Berkali-kali kawan saya ini menyayangkan aksi yang mungkin nanti terjadi. Nah, karena level saya ini masih bau kencur di ranah kepegawaian dan dalam kondisi sekarang nampaknya aturan tersebut ga terlalu berdampak sama kehidupan saya, jadi saya cuma bisa manggut-manggut galau. Kok galau? Kenapa tidak. Karena saya lebih mengkhawatirkan sebab musabab keluarnya aturan tersebut. Selama ini yang disebut abdi negara kan banyak yang tercoreng moreng karena segelintir (atau mungkin banyak?) oknum. Mungkinkah aturan ini muncul karena ketidakbaikan citra yang ditampilkan oleh para abdi negara ini? Pemalas, penggeretan, ga disiplin, dsb.
Padahal kalau ditilik lebih dalam, dari sekian puluh ribu pegawai negeri di bumi pertiwi ini, pastilah masih ada para pegawai jujur dan bersih yang tidak berhak mendapatkan klaim buruk tersebut. Contohnya ga jauh-jauh lah ya. Kawan-kawan bisa lihat di video ini bagaimana kawan kantor saya berjuang menunaikan tugasnya.Saya sendiri? Doakan saja kawan semoga saya dapat mengemban amanah ini dengan sangat baik.
Berkali-kali kawan saya ini menyayangkan aksi yang mungkin nanti terjadi. Nah, karena level saya ini masih bau kencur di ranah kepegawaian dan dalam kondisi sekarang nampaknya aturan tersebut ga terlalu berdampak sama kehidupan saya, jadi saya cuma bisa manggut-manggut galau. Kok galau? Kenapa tidak. Karena saya lebih mengkhawatirkan sebab musabab keluarnya aturan tersebut. Selama ini yang disebut abdi negara kan banyak yang tercoreng moreng karena segelintir (atau mungkin banyak?) oknum. Mungkinkah aturan ini muncul karena ketidakbaikan citra yang ditampilkan oleh para abdi negara ini? Pemalas, penggeretan, ga disiplin, dsb.
Padahal kalau ditilik lebih dalam, dari sekian puluh ribu pegawai negeri di bumi pertiwi ini, pastilah masih ada para pegawai jujur dan bersih yang tidak berhak mendapatkan klaim buruk tersebut. Contohnya ga jauh-jauh lah ya. Kawan-kawan bisa lihat di video ini bagaimana kawan kantor saya berjuang menunaikan tugasnya.Saya sendiri? Doakan saja kawan semoga saya dapat mengemban amanah ini dengan sangat baik.
Sabtu, 31 Januari 2015
Yang Diberi dan Yang Memotivasi
Pada tau dengan gambar di atas kan? Yup itu semua gantungan kunci alias ganci. Saya sebetulnya bukan penyuka gantungan kunci sih, walaupun itu pernah juga jadi tren saya di sekolah dasar dulu. Satu tas dengan beberapa resleting yang penuh dengan gantungan kunci. Tapi, seiring waktu berjalan ternyata tren ganci ini mungkin saja sudah diganti dengan tren gadget. Haha...secara saya seringkali lihat anak SD sudah lihai pegang tablet atau smartphone.
Ok. Kembali dengan ganci. Semua yang dipajang di atas itu adalah gantungan kunci oleh-oleh dari saudara dan teman saya yang kebetulan sedang jalan-jalan. Nah, karena belum ditakdirkan untuk bepergian, akhirnya orang-orang yang baik ini memberi saya ganci untuk memotivasi biar saya bisa nyusul mereka dalam berbuat baik (ngasih ganci juga hasil jalan-jalan -red). Karena memang sangat beda loh ternyata kalau cuma cerita jalan-jalan saja tanpa ada yang dibawa. Hiks hiks hiks...apa daya waktu tak terjamah. Saya cuma bisa lihat dari foto kawan dan saudar saya ini di medsos seperti instagram, path dan facebook. But anyway, saya bersyukur banget karena mereka ga melupakan saya (secara apalah saya ini...hanya pembatas kertas buku loakan hahaha...). Ya, setidaknya ganci-ganci ini adalah bukti motivasi mereka untuk saya agar bisa mengejar mimpi seperti mereka. Aaargh...mari semangat biar bisa ngasih ganci juga ke orang lain. *Setidaknya ini pikiran saya sewaktu diberi ganci. Yup All, hatur nuhun pisan sudah emut sama saya :D
Sabtu, 24 Januari 2015
Welcome 2015 ! Welcome New Step !
Alhamdulillah sampai juga di 2015. Apa yang sudah kawan-kawan lakukan? Saya? He he...Yuk mari review bersama karena saya sendiri masih menyisakan ruang kosong yang tak digunakan optimal setahun yang lalu. Tahukah kawan, kalau waktu sekarang berlalu begitu cepat. Baru bangun tidur cuma beberes sebentar eh sudah mau berangkat kerja, baru kerja sebentar eh sudah mau istirahat. Baru mau istirahat eh sudah jam pulang lagi. Waktu bagaikan arus banjir bandang memang. Dan saya masih menjadi salah satu peserta yang keseret arus tersebut. Karena itulah mudah-mudahan apa yang ditulis saat ini menjadi awal baru agar di 2015 segala sesuatu bisa terlaksana dengan baik, agar waktu yang ada termanfaatkan dengan sangat baik. Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara. Welcome 2015 !
Minggu, 31 Agustus 2014
PNS, Siapa bilang "duit" melulu?
Loh loh kok saya mau nulis sesuatu seperti ini ya??? Yah...anggap saja sedikit "pelampiasan" atas apa yang pernah saya alami sebelumnya. Dan saat ini, di tengah tumpukan kertas yang ga jelas lagi macamnya saya mencoba untuk sedikit rehat dan mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang sedang berjuang di tengah keloyoan dan "kontroversi hati".
Beberapa bulan yang lalu, ada seorang penghuni kosan baru datang untuk menjadi penduduk tetap selama 4 bulan. Kosan saya yang aman dan tentram ditambah dengan penghuninya yang sangat menjungjung tinggi kebersamaan tentu saja ga bakal nolak. Toh makin banyak yang tinggal makin rame. Ditambah lagi keheterogenan kami akan semakin menambah daya sosialisasi dan keluasan sudut pandang kami *uhuk. Penduduk kosan lama memang sangat majemuk, mulai dari usia, pekerjaan, agama dan pendidikan. Tentu saja semua itu bukan menjadi penghalang kebersamaan kami. Kalau tiba waktunya makan, ya kami duduk bersama. Kalau ada yang kelaparan ya tinggal woro-woro aja pasti ada yang nanggung. Intinya kami ini semua dalah perantau dan sesama perantau pastilah saling menjaga dan memiliki. Ya walaupun tidak semua sih. Tapi saya sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang ini.
Dan marilah kita kembali pada penghuni baru yang notabene masih kawanan sama salah satu penghuni lama kosan kami. Awal berkenalan sih tidak terlalu kentara sifat2 yang di beberapa waktu kemudian membuat kami selalu geleng-geleng kepala. Terlepas dari segala sifat sukuisme, setiap anak dulunya pasti diajarkan untuk bertata krama dengan baik. Jika ketemu orang baru kenal senyumlah sewajarnya, berkelakuanlah sewajarnya dan jangan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) karena ga setiap orang mau menerima sikap kita yang mungkin dianggap terlalu agresif itu. Pokoknya kalau ketemu orang pertama kali kan standarnya 3S (Senyum, Salam dan Sapa) dan yang harus perlu dicatat adalah don't too exaggagerate. Baik dalam bercerita maupun menanggapi cerita.
TAPI...alkisah selang dalam beberapa minggu kemudian, kami para penghuni lama baru menyadari kalau penghuni baru ini terlalu overreacted dan punya gangguan penyakit semua-tentang-diriku yang ga ada habisnya. Belum lagi falsafah gue bener dan loe salah. Haduuuuuh...terganggu dong harmonisasi kosan kami ini. Nah sampailah pada suatu malam ketika kami membahas tentang proses tes penerimaan CPNS yang lagi panas-panasnya di daerah kami. Meluncurlah kata-kata itu, " Kamu tahu ga, ga ada yang bersih dalam PNS. Semua pakai duit "
Karena saya satu-satunya yang berprofesi PNS tentu saja saya sangat tersungging, karena selama ini, baik saya maupun orang pernah saya kenal dan berprofesi sebagai PNS tidak ada tuh yang pakai2 uang pelicin atau apa. Memang selama ini birokrasi terkenal sangat njlimet, mumet dan ga jauh-jauh dari hepeng. Tapi...sekali lagi itu kan ga semuaaa.
Dalam bahasa Indonesia yang saya pelajar dahulu ada sebuah majas yang menunjukkan sebagian untuk semua, Totem Pro Parte. Dimana yang tadinya cuma sedikit saja yang melakukan dianggap jadi seolah-olah semuanya melakukan. Mungkin ini pula yang kemudian menjadikan setiap orang yang berprofesi PNS langsung dicap ga baik, pemalas, dan selalu meng"uang"kan segala sesuatu. Tapi ingatlah teman, akan selalu ada oknum di setiap profesi yang menjadikan profesi tersebut tercoreng moreng citranya. Karena disadari atau tidak sebetulnya jika orang yang berprofesi PNS ini menyadari betul betapa beratnya amanah yang ia tanggung, ga bakal tuh ada yang namanya korupsi, malas kerja, bolos dan UUD (ujung-ujungnya duit). Karena saat mereka dilantik mereka disumpah dan tidak tanggung-tanggung ketika jabatannya sudah sangat strategis pakai kitab suci masing-masing.
Mau tahu kenapa dulu begitu santernya kata Oemar Bakri melekat di wajah guru PNS, karena dulu PNS guru begitu miskin sampai dahulu kala profesi pegawai negeri yang satu ini kurang peminatnya. Tapi ya sekali lagi mari kita kembalikan lagi pada hati nurani masing-masing yang punya profesi. Jika ia amanah tentu saja ga bakalan ada kaidah untung rugi dalam menjalankan tugasnya. Tak ada kata Lelah, semua tergantikan dengan Lillah.
*Di hari minggu, belakang meja kantorku :')
Beberapa bulan yang lalu, ada seorang penghuni kosan baru datang untuk menjadi penduduk tetap selama 4 bulan. Kosan saya yang aman dan tentram ditambah dengan penghuninya yang sangat menjungjung tinggi kebersamaan tentu saja ga bakal nolak. Toh makin banyak yang tinggal makin rame. Ditambah lagi keheterogenan kami akan semakin menambah daya sosialisasi dan keluasan sudut pandang kami *uhuk. Penduduk kosan lama memang sangat majemuk, mulai dari usia, pekerjaan, agama dan pendidikan. Tentu saja semua itu bukan menjadi penghalang kebersamaan kami. Kalau tiba waktunya makan, ya kami duduk bersama. Kalau ada yang kelaparan ya tinggal woro-woro aja pasti ada yang nanggung. Intinya kami ini semua dalah perantau dan sesama perantau pastilah saling menjaga dan memiliki. Ya walaupun tidak semua sih. Tapi saya sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang ini.
Dan marilah kita kembali pada penghuni baru yang notabene masih kawanan sama salah satu penghuni lama kosan kami. Awal berkenalan sih tidak terlalu kentara sifat2 yang di beberapa waktu kemudian membuat kami selalu geleng-geleng kepala. Terlepas dari segala sifat sukuisme, setiap anak dulunya pasti diajarkan untuk bertata krama dengan baik. Jika ketemu orang baru kenal senyumlah sewajarnya, berkelakuanlah sewajarnya dan jangan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) karena ga setiap orang mau menerima sikap kita yang mungkin dianggap terlalu agresif itu. Pokoknya kalau ketemu orang pertama kali kan standarnya 3S (Senyum, Salam dan Sapa) dan yang harus perlu dicatat adalah don't too exaggagerate. Baik dalam bercerita maupun menanggapi cerita.
TAPI...alkisah selang dalam beberapa minggu kemudian, kami para penghuni lama baru menyadari kalau penghuni baru ini terlalu overreacted dan punya gangguan penyakit semua-tentang-diriku yang ga ada habisnya. Belum lagi falsafah gue bener dan loe salah. Haduuuuuh...terganggu dong harmonisasi kosan kami ini. Nah sampailah pada suatu malam ketika kami membahas tentang proses tes penerimaan CPNS yang lagi panas-panasnya di daerah kami. Meluncurlah kata-kata itu, " Kamu tahu ga, ga ada yang bersih dalam PNS. Semua pakai duit "
Karena saya satu-satunya yang berprofesi PNS tentu saja saya sangat tersungging, karena selama ini, baik saya maupun orang pernah saya kenal dan berprofesi sebagai PNS tidak ada tuh yang pakai2 uang pelicin atau apa. Memang selama ini birokrasi terkenal sangat njlimet, mumet dan ga jauh-jauh dari hepeng. Tapi...sekali lagi itu kan ga semuaaa.
Dalam bahasa Indonesia yang saya pelajar dahulu ada sebuah majas yang menunjukkan sebagian untuk semua, Totem Pro Parte. Dimana yang tadinya cuma sedikit saja yang melakukan dianggap jadi seolah-olah semuanya melakukan. Mungkin ini pula yang kemudian menjadikan setiap orang yang berprofesi PNS langsung dicap ga baik, pemalas, dan selalu meng"uang"kan segala sesuatu. Tapi ingatlah teman, akan selalu ada oknum di setiap profesi yang menjadikan profesi tersebut tercoreng moreng citranya. Karena disadari atau tidak sebetulnya jika orang yang berprofesi PNS ini menyadari betul betapa beratnya amanah yang ia tanggung, ga bakal tuh ada yang namanya korupsi, malas kerja, bolos dan UUD (ujung-ujungnya duit). Karena saat mereka dilantik mereka disumpah dan tidak tanggung-tanggung ketika jabatannya sudah sangat strategis pakai kitab suci masing-masing.
Mau tahu kenapa dulu begitu santernya kata Oemar Bakri melekat di wajah guru PNS, karena dulu PNS guru begitu miskin sampai dahulu kala profesi pegawai negeri yang satu ini kurang peminatnya. Tapi ya sekali lagi mari kita kembalikan lagi pada hati nurani masing-masing yang punya profesi. Jika ia amanah tentu saja ga bakalan ada kaidah untung rugi dalam menjalankan tugasnya. Tak ada kata Lelah, semua tergantikan dengan Lillah.
*Di hari minggu, belakang meja kantorku :')
Senin, 18 Agustus 2014
Tujuh Belas Agustus dan Demokrasi
Hari ini adalah pelatihan pertama setelah idul fitri terlewati. Sepanjang jalan menuju tempat pelatihan saya di Hotel Abadi Wing, Jambi, ramai dengan orang yang pawai. Ooh ya ya...pantas karena hari ini adalah hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, walaupun sudah kelang sehari. Saya antusias sekali dengan banyaknya umbul-umbul dan bendera merah putih yang terpajang hampir di sepanjang jalan. Negara ini bersukacita tentu saja, tidak murah harga yang harus dibayar untuk sebuah kemerdekaan, demi tegaknya sebuah kedaulatan yang dirintis oleh para pahlawan yang terkenang dan tercatat maupun yang terlupakan. Perjalanan panjang dengan mengikuti masa pemerintahan yang berganti berkali-kali menggoreskan catatan-catatan baik dan buruk. Termasuk dalam memahami demokrasi secara utuh.
Dari dan untuk rakyat, itulah demokrasi. Pengertian yang didapatkan ketika duduk di bangku menengah pertama persis di mata pelajaran kewarganegaraan. Setiap kali itu pula pengertian ini yang saya centang ketika ada pertanyaan di lembar ujian mengenai demokrasi. Dan seiring dengan waktu, ternyata teori ini mungkin teori sempurna yang banyak tersandung-sandung di dunia nyata. Ops...saya bukan ahli politik, hanya seorang warga yang senang sekali melihat antusias warga lainnya dalam memberikan sumbangsih yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya sedikit dari sekian banyak pendengar dan penyimak yang handal dari berita yang berseliweran di televisi dengan awamnya kemampuan menyaring mana yang benar-benar berita terpercaya. Sekali lagi saya hanyalah seorang warga yang sangat ingin negaranya dijalankan oleh orang-orang yang baik dan bersih. Yang murni akan menjalankan amanat yang diembannya untuk kesejahteraan warga.
Dan untuk kesekian kalinya, saya bukanlah politisi atau pengamat politik. Hanya seorang warga yang senantiasa berdo'a semoga tangan-tangan yang tidak terlihat itu membantu orang yang benar-benar mampu membawa negeri ini menjadi lebih baik. Yang tidak akan menghilangkan harapan dan memupuskan kepercayaan.
*Di depan televisi sambil melihat berita tentang demokrasi negeri ini
Dari dan untuk rakyat, itulah demokrasi. Pengertian yang didapatkan ketika duduk di bangku menengah pertama persis di mata pelajaran kewarganegaraan. Setiap kali itu pula pengertian ini yang saya centang ketika ada pertanyaan di lembar ujian mengenai demokrasi. Dan seiring dengan waktu, ternyata teori ini mungkin teori sempurna yang banyak tersandung-sandung di dunia nyata. Ops...saya bukan ahli politik, hanya seorang warga yang senang sekali melihat antusias warga lainnya dalam memberikan sumbangsih yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya sedikit dari sekian banyak pendengar dan penyimak yang handal dari berita yang berseliweran di televisi dengan awamnya kemampuan menyaring mana yang benar-benar berita terpercaya. Sekali lagi saya hanyalah seorang warga yang sangat ingin negaranya dijalankan oleh orang-orang yang baik dan bersih. Yang murni akan menjalankan amanat yang diembannya untuk kesejahteraan warga.
Dan untuk kesekian kalinya, saya bukanlah politisi atau pengamat politik. Hanya seorang warga yang senantiasa berdo'a semoga tangan-tangan yang tidak terlihat itu membantu orang yang benar-benar mampu membawa negeri ini menjadi lebih baik. Yang tidak akan menghilangkan harapan dan memupuskan kepercayaan.
*Di depan televisi sambil melihat berita tentang demokrasi negeri ini
Kamis, 14 Agustus 2014
Throwback Masa ST2013...
Akhirnya tulisan pertama saya di tahun 2014 terlaksana juga :). Hampa rasanya setelah sekian lama ga bisa ngutrak ngutrik keyboard untuk sekedar cuap-cuap bercerita. Apalagi tahu-tahu sudah tahun 2014 saja. Banyak pengalaman bergulir, pemandangan yang tak terekam, unek-unek yang terlupakan. Tentu saja, menuliskan unek-unek bukanlah hal yang menjadi tujuan saya menulis di blog. Apalagi di suasana hari yang hujan 'bablas' nan gelap ini, saya jadi melankolis dan mulai bernostalgia.
Terakhir saya nulis adalah tentang kegiatan besar yang lagi dilaksanakan di kantor BPS alias Badan Pusat Statistik, ST2013 ( Sensus Pertanian 2013). Kegiatan besar yang adanya sepuluh tahun sekali dan digelar hanya saat tahunnya berakhiran 3 saja. Kegiatan ST2013 ini masih adik kakak sama kegiatan besar BPS yang lain seperti Sensus Penduduk dan Sensus Ekonomi.
Banyak juga sebenarnya orang yang belum faham tentang statistik. Biasanya tiap saya sedang mencacah dulu orang-orang hanya tahu pegawai statistik sebagai pegawai sensus. Agak geli sih...tapi memang kegiatan kami tidak jauh-jauh dari yang namanya sensus dan survei plus analisis2 di dalamnya. Nah di ST2013 ini sebetulnya banyak banget suka duka yang dialami. Mulai dari pengalaman pertama saya yang luar biasa menguras otak karena yang tadinya disiapkan di teknis tiba-tiba harus mau bantuin bikin semua keperluan nonteknis. Olalala...mana bisa cakap dalam satu jam saja. Sampai pengalaman ngajar di hadapan banyak orang dengan berbagai usia dan pendidikan. Sebetulnya memang pekerjaan itu tidak ada yang memberatkan sejauh kita menyukai pekerjaan itu. Tapi booo....falsafah ini masih kuarng maknyus dalam lubuk hati saya yang terbilang masih ijo lumut di bidang pekerjaan. Nyatanya, saya pasti nangis bombay sambil kejang-kejang kalau kejadiannya kayak salah satu pegawai mitra yang kebetulan bertugas di daerah yang menurut saya super duper fantastis dan bombastis ancur lebur kayak bubur....jalannya.
Biasanya saya ga habis pikir kok bisa masih ada orang yang mau tinggal di daerah yang infrastrukturnya jelek begitu, kok yang berwenang ngurusin jalan ga turun2, kok ya didiemin saja sih jalannya rusak, gimana kalau ada ibu hamil mau melahirkan di waktu yang tak terduga? Dan banyak pertanyaan lain yang rupanya belum sampai di logika saya kalau berkaitan dengan yang namanya proyek dan anggaran.
Dan ketika saya sudah berada di ruang tahun 2014...saya baru nyadar betapa waktu itu singkat sekali berjalannya. Baru kemarin tahun baru, Idul Fitri eh sudah ketemu lagi tahun baru dan idul fitri dddaaannn sekarang sudah nangkring di Agustus. Wow dan haloooo sudah sampai dimana perjalananmu???
Aniway, saya bukan orang yang suka merepotkan diri dengan mengkhawatirkan sesuatu yang belum jelas wujudnya. Jadi, nikmatin apa yang ada dan jalani sebaik mungkin.
Terakhir saya nulis adalah tentang kegiatan besar yang lagi dilaksanakan di kantor BPS alias Badan Pusat Statistik, ST2013 ( Sensus Pertanian 2013). Kegiatan besar yang adanya sepuluh tahun sekali dan digelar hanya saat tahunnya berakhiran 3 saja. Kegiatan ST2013 ini masih adik kakak sama kegiatan besar BPS yang lain seperti Sensus Penduduk dan Sensus Ekonomi.
Banyak juga sebenarnya orang yang belum faham tentang statistik. Biasanya tiap saya sedang mencacah dulu orang-orang hanya tahu pegawai statistik sebagai pegawai sensus. Agak geli sih...tapi memang kegiatan kami tidak jauh-jauh dari yang namanya sensus dan survei plus analisis2 di dalamnya. Nah di ST2013 ini sebetulnya banyak banget suka duka yang dialami. Mulai dari pengalaman pertama saya yang luar biasa menguras otak karena yang tadinya disiapkan di teknis tiba-tiba harus mau bantuin bikin semua keperluan nonteknis. Olalala...mana bisa cakap dalam satu jam saja. Sampai pengalaman ngajar di hadapan banyak orang dengan berbagai usia dan pendidikan. Sebetulnya memang pekerjaan itu tidak ada yang memberatkan sejauh kita menyukai pekerjaan itu. Tapi booo....falsafah ini masih kuarng maknyus dalam lubuk hati saya yang terbilang masih ijo lumut di bidang pekerjaan. Nyatanya, saya pasti nangis bombay sambil kejang-kejang kalau kejadiannya kayak salah satu pegawai mitra yang kebetulan bertugas di daerah yang menurut saya super duper fantastis dan bombastis ancur lebur kayak bubur....jalannya.
Biasanya saya ga habis pikir kok bisa masih ada orang yang mau tinggal di daerah yang infrastrukturnya jelek begitu, kok yang berwenang ngurusin jalan ga turun2, kok ya didiemin saja sih jalannya rusak, gimana kalau ada ibu hamil mau melahirkan di waktu yang tak terduga? Dan banyak pertanyaan lain yang rupanya belum sampai di logika saya kalau berkaitan dengan yang namanya proyek dan anggaran.
Dan ketika saya sudah berada di ruang tahun 2014...saya baru nyadar betapa waktu itu singkat sekali berjalannya. Baru kemarin tahun baru, Idul Fitri eh sudah ketemu lagi tahun baru dan idul fitri dddaaannn sekarang sudah nangkring di Agustus. Wow dan haloooo sudah sampai dimana perjalananmu???
Aniway, saya bukan orang yang suka merepotkan diri dengan mengkhawatirkan sesuatu yang belum jelas wujudnya. Jadi, nikmatin apa yang ada dan jalani sebaik mungkin.
Minggu, 02 Juni 2013
Sensus Pertanian 2013 (ST2013)
Hi reader....akhirnya daku kembali setelah sekian lama ga mengurus blog imut ini. Huh...banyak hal yang terlewat tanpa direkam dalama tulisan. Terutama kegiatan yang sebulan ini aku ikuti. Sensus Pertanian 2013 (ST2013). Want to know about it?
Jadi, ceritanya instansi pemerintah yang mengadakan ini tuh adalah BPS (Badan Pusat Statistik). Badan yang kesehariannya tuh ga jauh-jauh dari angka dan analisis. Maklum, namanya juga statistik. Kegiatan yang instansi ini punya juga beragam dan tiga diantaranya adalah kegiatan besar yaitu sensus. Sensus besar tuh ada 3 macam : 1. Sensus Penduduk (tiap tahun yang berakhiran 0) ; 2. Sensus Pertanian (tiap tahun yang berakhiran 3) ; 3. Sensus Ekonomi (tiap tahun yang berakhiran 6).
Nah, berhubung tahun ini 2013, makanya sensus yang diadakan itu ya Sensus Pertanian 2013 (ST2013). Kegiatan ini untuk mendata ruta tani dan komoditas pertanian yang diusahakan. Sebenarnya udah agak basi sih bahas kegiatan ini. Berhubung waktunya kan udah selesai. Karena kegiatan ini diadakan dari tanggal 1 - 31 Mei 2013. Tapi, tak apalah karena selesai di sini bukan berarti selesai semuanya. Masih ada tahapan kegiatan lanjutan, mulai dari penerimaan dokumen hasil sensus dari petugas (Receiving Batching), Editing Coding, dan Pengolahan data (Entry).
Rasanya Nyacah?
Hm...nano nano, karena ga semua responden percaya sama data dan manfaatnya, bahkan ada yang takut kalau data ini disalahgunakan untuk naikin pajak. Beud.....tapi semua itu bukan halangan, bahkan kalau perlu jalanan yang sedemikian jauh, jelek dan terpencil bakalan kami datangin.
Dan sepatu pun ikut kelaparan saking jauh dan jeleknya :'(
Woah pokonya seru kalo sudah di lapangan, peluh bercucuran atau sepatu kelaperan ga jadi masalah...karena data itu berharga banget. Hm...semoga semakin banyak yang menyadari pentingnya data ini jadi ga ada lagi yang namanya kebijakan yang salah sasaran. Karena yang ditanya menjawab dengan sejujur-jujurnya. Pokoknya sensus ini semoga berhasil, untuk masa depan petani yang lebih baik. Hidup ST2013 ! ^^
Jadi, ceritanya instansi pemerintah yang mengadakan ini tuh adalah BPS (Badan Pusat Statistik). Badan yang kesehariannya tuh ga jauh-jauh dari angka dan analisis. Maklum, namanya juga statistik. Kegiatan yang instansi ini punya juga beragam dan tiga diantaranya adalah kegiatan besar yaitu sensus. Sensus besar tuh ada 3 macam : 1. Sensus Penduduk (tiap tahun yang berakhiran 0) ; 2. Sensus Pertanian (tiap tahun yang berakhiran 3) ; 3. Sensus Ekonomi (tiap tahun yang berakhiran 6).
Nah, berhubung tahun ini 2013, makanya sensus yang diadakan itu ya Sensus Pertanian 2013 (ST2013). Kegiatan ini untuk mendata ruta tani dan komoditas pertanian yang diusahakan. Sebenarnya udah agak basi sih bahas kegiatan ini. Berhubung waktunya kan udah selesai. Karena kegiatan ini diadakan dari tanggal 1 - 31 Mei 2013. Tapi, tak apalah karena selesai di sini bukan berarti selesai semuanya. Masih ada tahapan kegiatan lanjutan, mulai dari penerimaan dokumen hasil sensus dari petugas (Receiving Batching), Editing Coding, dan Pengolahan data (Entry).
Hm...nano nano, karena ga semua responden percaya sama data dan manfaatnya, bahkan ada yang takut kalau data ini disalahgunakan untuk naikin pajak. Beud.....tapi semua itu bukan halangan, bahkan kalau perlu jalanan yang sedemikian jauh, jelek dan terpencil bakalan kami datangin.
Dan sepatu pun ikut kelaparan saking jauh dan jeleknya :'(
Woah pokonya seru kalo sudah di lapangan, peluh bercucuran atau sepatu kelaperan ga jadi masalah...karena data itu berharga banget. Hm...semoga semakin banyak yang menyadari pentingnya data ini jadi ga ada lagi yang namanya kebijakan yang salah sasaran. Karena yang ditanya menjawab dengan sejujur-jujurnya. Pokoknya sensus ini semoga berhasil, untuk masa depan petani yang lebih baik. Hidup ST2013 ! ^^
Selasa, 19 Maret 2013
A Little Thing Called..Happy
I am sure i need a rest, far far away from that noise, that traffic....but at last i still miss it as my precious, my little thing called..HAPPY
Ada waktu dimana segala ingar menyisih dan harus tersisih, Kelelahan kota besar yang menggumpal dan terjalin dalam pekatnya udara. Segala kemudi dan rentetan klakson yang berderet saat antrian mobil di sepanjang jalan utama tak mampu berjalan walau hanya segaris jejak roda. Semua itu, kawan, melelahkan, namun mengingatnya menyenangkan.
Segala kepenatan itu satu hari akan mampir dalam bentuk kerinduan. Mungkin karena terlalu lama dirahimi oleh kesunyian. Aku bukan pecinta keramaian, namun bukan pula pemuja kesenyapan. Aku akan menyisih saat keramaian terlalu menyeruak. Dan kembali saat kesenyapan sangat berkuasa.
Dan kata bahagia itu, kawan. Sangatlah sederhana. Dimulai dari kata aku, bertemu dan menemukan. Berakhir dalam sebuah senyuman dan kelapangan.
Aku bertemu seorang sahabat dari masa lalu
Aku menemukan album kenangan
Aku menemukan barang yang hilang
Aku bertemu keluarga
Aku bertemu ketenangan
Aku bertemu kenangan
Aku menemukan iman
Aku dan segala temuannya yang membuatku senang tak kepalang
Dan kini aku senang karena akan bertemu dengan sebuah barang bernama TV. Memalukan memang, namun itu salah satu peninggalan yang ingarnya kadang membuat muak tak tertahan, namun sekian lama menjauh darinya serasa diasingkan, karena aku tak tahu apa yang terjadi di bagian daerah lain, ada apa, mengapa, kapan peristiwa terjadi, dll.
Semakin senyap semakin rindu keingaran, namun alah bisa karena biasa kan...
Hanya butuh sedikit kesabaran saat langkah sedang memulai jejak
Dari tiada menjadi ada
Ada waktu dimana segala ingar menyisih dan harus tersisih, Kelelahan kota besar yang menggumpal dan terjalin dalam pekatnya udara. Segala kemudi dan rentetan klakson yang berderet saat antrian mobil di sepanjang jalan utama tak mampu berjalan walau hanya segaris jejak roda. Semua itu, kawan, melelahkan, namun mengingatnya menyenangkan.
Segala kepenatan itu satu hari akan mampir dalam bentuk kerinduan. Mungkin karena terlalu lama dirahimi oleh kesunyian. Aku bukan pecinta keramaian, namun bukan pula pemuja kesenyapan. Aku akan menyisih saat keramaian terlalu menyeruak. Dan kembali saat kesenyapan sangat berkuasa.
Dan kata bahagia itu, kawan. Sangatlah sederhana. Dimulai dari kata aku, bertemu dan menemukan. Berakhir dalam sebuah senyuman dan kelapangan.
Aku bertemu seorang sahabat dari masa lalu
Aku menemukan album kenangan
Aku menemukan barang yang hilang
Aku bertemu keluarga
Aku bertemu ketenangan
Aku bertemu kenangan
Aku menemukan iman
Aku dan segala temuannya yang membuatku senang tak kepalang
Dan kini aku senang karena akan bertemu dengan sebuah barang bernama TV. Memalukan memang, namun itu salah satu peninggalan yang ingarnya kadang membuat muak tak tertahan, namun sekian lama menjauh darinya serasa diasingkan, karena aku tak tahu apa yang terjadi di bagian daerah lain, ada apa, mengapa, kapan peristiwa terjadi, dll.
Semakin senyap semakin rindu keingaran, namun alah bisa karena biasa kan...
Hanya butuh sedikit kesabaran saat langkah sedang memulai jejak
Dari tiada menjadi ada
Minggu, 06 Januari 2013
Tembesi, Pasangan Elok Ancol Sarolangun
" Nak jalan kemana di Sarolangun?"
"Ancol lah, elok sungai jika sore hari"
Itulah salah satu percakapan yang terkait topik wisata ketika saya mulai mengeksplorasi wilayah Sarolangun, Jambi. Maklum, sebagai orang baru harus banyak nanya, norak2 sedikit tak apalah, daripada nyasar. Betul ga?
Dan tahulah saya bahwa ternyata di Jambi ini banyak sekali tempat wisata eksotis, termasuk cerita-cerita mistisnya, but there's no point to be afraid. Saya kira di semua daerah menyimpan cerita-cerita semacam itu. Saya ga bakalan cerita hal-hal negatif di sini ^^, Indonesia tuh indah banget untuk dilingkupi hal2 semacam itu. Jadi ga bakalan ada yang namanya travelling kalau kita selalu terpaku pada yang namanya legenda lokal, iya toh?
Dan di Tembesi lah mata saya tertumbuk. Oh, sungai inilah yang kelak ketika hujan senantiasa mengguyur, maka beberapa rumah yang ada sepanjang jalan menuju Sarolangun Bangko bisa terendam. Sungguh sungai yang lebar, tak berbatu, cenderung tenang. Sangat khas sungai Sumatera.
Dan tak ada yang namanya hal istimewa kalau tak disebutkan Ancol. Namun, berbeda dengan Ancol yang Jakarta punya. Ancol di sini ya pastinya tidak ada pantai. Pemandangan di depannya bukanlah lautan, namun Tembesi ini. Inilah salah satu icon kebanggaan masyarakat Sarolangun. Selain itu masih ada Mesjid Kubah Emas, Mesjid Agung Al Falah, dll.
Hampir setiap hari muda mudi termasuk para orang tua datang ke Ancol untuk menikmati kebersamaan sambil menikmati jajanan yang ada di sana. Terutama ketika hari-hari menjelang sore. Hm, memang dimana-mana yang namanya kumpul-kumpul itu sangat dibutuhkan. Selain sebagai ajang sosialisasi, juga sebagai sarana refreshing setelah seharian beraktivitas yang biasanya monoton. Selain itu, Tembesi juga biasanya dijadikan sebagai ajang untuk perlombaan dayung. Kata narasumber alias teman ngobrol saya yang penduduk situ, biasanya kalau sudah diadakan lomba dayung riuhnya tak alang kepalang.
Lain waktu saya bakal bahas tentang tempat lainnya...
Kamis, 03 Januari 2013
Yups...Akhirnya Sarolangun juo
Ada penugasan yang membuat saya tidak langsung menetap di salah satu kabupaten pemekaran di Jambi ini. Sarolangun namanya. Dan untuk sampai ke sana saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari kota Jambi. Jangan bandingkan empat jam daerah dan kota besar. Jika di kota besar empat jam itu tak murni, ada lampu merah dan kemacetan menahun yang tak tahu kapan selesainya. Tapi di daerah, hm hm hm...waktu saya lihat speedometer nya saja, saya sudah ngangkat alis. 90 km/jam hahaha....belum lagi jalur berkelok-kelok bak ular lagi goyang dangdut.
Dan sampai juo saya di sana. Kabupaten yang terbilang mempunyai kemajuan yang cukup membanggakan. Dan pertanyaan pertama saat saya sampai di sana adalah "angkot, mana angkot ?"
Ga ada satupun benda beroda empat yang riuh oleh penumpang. Tak ada angkot kawan, yang banyak adalah sepeda motorrrrrrrrr.
Ya sudahlah mau tak mau untuk beberapa hari ini saya harus nebeng dulu sama atasan haha...pak bos i'm sorry to be a burden.
Tapi jauh dari segala kekhawatiran saya tentang perangkotan itu, saya hanya berharap semua hal yang menyangkut pekerjaan saya membuat saya nyaman. I am wishing for my best ever after forever.....
Jumat, 28 Desember 2012
Welcome to Jambi
Akhirnya, keputusan itupun tunailah hahaha...
I will flight to another island, Sumatera. Sebentar lagi semua kamus kedaerahan 'abdi' akan berubah menjadi 'ambo' dan 'hiji' menjadi 'siko'. Kau tahu kawan? Sebentar lagi saya jadi bagian dari provinsi Jambi !!!
Kedinasan berarti sebuah kepatuhan, hm...itu ga pernah terpikir bagi seorang mahasiswa yang berhasil masuk melewati ujan saringan yang begitu luar biasa ketat. Tapi, ketika kau mendapat kabar lulus tes tahap 1, tahap 2, tahap 3, ga ada satu pun kekhawatiran mengenai penempatan. Yang penting kau sudah tahu lulus, belajar tanpa kena DO, ikutan prajab lalu diangkat jadi PNS.
Tapi tahukah kamu? Jika kau sebagai bagian dari sedikit orang yang bukan penempatan pusat, punya jiwa petualang, sudah terlalu pekak dengan kebisingan kota, maka sebuah kata ajaib akan menggiringmu ke sebuah tempat bernama ' daerah baru' itulah yang dinamakan penempatan. Dan semua itu bagi saya menjadi riak-riak semnagat yang menggelitik, bercampur bak arus yang akan menggiring saya arung jeram. M enyenangkan, menegangkan, ditunggu-tunggu tapi juga cemas berkejar-kejaran. Tempat baru, kawan baru, pengalaman baruuuu...
Ah, sungguh keluarga tersayang yang mengantarku bak sebuah pelepasan ajang pemilihan idola, membuat saya mengharu biru. Saya ga tahu sesering apa bisa pulang ke tanah pasundan lagi. Tapi demi sebuah pengabdian yang harus dibayar setelah pembelajaran bertahun2, gratis pula, mau tak mau haruslah hati ini dibuat seringan mingkin.
Dan setelah perjalanan sekitar 1 jam, sampailah saya di tanah 'seribu ruko' hahaha...itulah yang pertama kali saya dengar. Karena ternyata eh ternyata memang banyak juga ruko yang dibangun di Jambi ini.
Saat pertama kali menginjak tanah Jambi ini, semakin raiklah perasaan saya...haha thx for Ian yg udah motoin kenorakan saya karena baru pertama kali ke tanah Sumatera. Tahu ga, pas di dalam pesawat aja, foto mah teteeeep.... ^^
Cuma satu yang selalu buat saya ketar - ketir tiap naik pesawat itu, pas landing. begetarrr pas lewatin awan tebal..tapi sudahlah..semua sensasi itu memang luarr biasa :)
so, welcome to Jambi. The life start here...
Jumat, 16 November 2012
Akhirnya Aku Nulis Lagi !
Apa yang bisa membuat kepala pening di pagi hari? Banyaaaak
Mulai dari celotehan mama, tangisan sepupu balita, sampe tukang kredit yang sebenarnya lagi nagih sama mama kamu. Tapi, dalam kasus aku sekarang ini, hanya satu, ME-NU-LIS !
Tahu kan rasanya tak bersua sama orang dirindukan selama bermenit-menit. Rasanya kayak setahun. Halah! Tapi itu pula yang lagi terjadi sama jari-jariku selama ini. Aku rindu beraaat, sungguh. Rasanya ga pulkam dan betah merantau di hiruk pikuk realita.
Hai blog tersayangku, ampun beribu ampun aku udah ga berkunjung selama berbulan-bulan. Terlalu sibuk dengan ini itu di luar sana. Kesibukan sebagai seorang manusia yang harus hidup dengan visi dan misi yang entah sejak kapan itu mulai terpahat dan terekam dalam otak. Klise kan kalau aku bilang terlalu sibuk sampai tak sempat nulis atau bercuap-cuap di sini. Tapiiiiiiiiiiiiii, dengan segenap daya yang masih tersisa. Mulai dari sekarang ga bakal deh aku membiarkan jari-jari mungilku ini encok karena ga bisa nulis ddan ngobrol sama tuts-tuts tersayangnya. Ok, Let's write again !
Sabtu, 04 Agustus 2012
Catatan Subuh di Teras Istiqlal : Adzan Subuh Dua Kali?
Adzan berkumandang dengan syahdunya, membuat mata-mata yang terlelap terbuka satu demi satu. Begitu juga saya. Refleks saya raih handphone yang ada dalam tas. Tapi loh...kok baru jam 03.00 pagi sudah adzan. Dan kenapa juga saya tidur pakai mukena. Sambil mengumpulkan kesadaran sesadar-sadarnya, akhirnya saya ngeh kalo lagi ada di Istiqlal. Kan tadi malam udah niat mau mabit. Ckckck...kadang disorientasi kalau baru bangun.
Yup, sejak sore hari saya memang sudah niat untuk buka dan lanjut tarawih di mesjid Istiqlal. Sekalian mumpung belum pulang kampong jadi sebisa mungkin untuk bisa hadir dan ikut event yang diadakan selama bulan Ramadhan. Entah di mana saja. Yang penting dapat ilmu agama dengan baik dan benar. Berabe kalau sudah penempatan di daerah nanti. Bisa-bisa saya cuma bisa mengulum penyesalan karena tak sempat bertandang ke majelis-majelis ilmu di tempat besar, salah satunya ya seperti Istiqlal ini. Apalagi para pengisinya orang yang mumpuni semua. Yang hafalan Qur'annya luar bisa.
Acara di Istiqlal selama bulan Ramdhan hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi, ga ada yang namanya rasa bosan. Karena justru itu yang dinanti-nanti. Bulan Ramadhan malah semakin menambah geliat dan gairah para jamaah untuk meramaikan masjid. Karena itu, acara buka bersama yang selalu diadakan di mesjid Istiqlal menjadi momen paling mengasyikkan. Lihat saja kalo lagi buka bareng, jejerannya memanjang berkelok-kelok sampai ke ujung. Para petugas pun senantiasa siap menunjukkan arah "barisan siap berbuka" supaya tetap tertib dan rapih. Ta'jil? Jangan ditanya, sudah pasti gratisan dong. Mesjid besar ini selalu menyediakan ta'jil yang melimpah, baik hasil dari kas sendiri maupun donatur.
Semua kegiatan yang dilakukan secara berjama'ah senantiasa membuat saya bersemangat. Kenapa? Karena kesadaran saya semakin teryakinkan bahwa Islam itu sangat INDAH. Rereongan mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Mulai dari buka, shalat, zakat semuanya bertumpu pada satu titik, beribadah pada Allah.
Cuma kadangkala memang kekecewaan dari orang-orang yang apatis terhadap agama terutama Islam, senantiasa membuat gerah. Contoh, Islam tapi kok mulutnya ember, Islam tapi toiletnya bau sih. Mereka salah? Tidak juga kok. Namun kurang tepat mungkin. Seharusnya kan yang dikritisi orangnya, bukan agamanya. Karena segelintir orang yang ga bertanggung jawab terhadap ajaran agama yang diembannya itulah makanya orang-orang apatis itu langsung menohok labelnya. Mari berpikir dewasa teman :)
Ok, back to adzan. Ternyata, yang saya dengar tadi itu bukan adzan subuh. Jadi, di zaman Rasulullah SAW itu selama bulan Ramadhan memang selalu ada dua adzan. Adzan pertama oleh sahabat nabi, Bilal bin Rabbah dengan tujuan membangunkan orang untuk sahur atau melakukan shalat sunnah lainnya. Adzan kedua oleh sahabat nabi lainnya untuk melaksanakan subuh berjamaah. Bedanya, kalau yang pertama diselipi lafadz "assholaatu khoirumminannauum" Shalat itu lebih baik daripada tidur.
Masalahnya, adzan pertama ini ga terlalu mempan. Makanya petugas pada bawa toa juga karena ternyata setelah adzan pertama tadi masih banyak aja tuh yang merajut mimpi sampai ileran hahaha. Kebanyakan ibu-ibu lagi. Pas dibangunkan sama toa, padahal petugasnya sudah lemah lembut banget cara membuat para ibu tadi bangun, eh ibunya bilang " Saya lagi pusing, ngantuk ini" . Yah, i'tikaf ujung-ujungnya cuma memindahkan tempat untuk tidur.
The last but not least, seusai shalat subuh berjama'ah ada ceramah yang juga sangat menarik hati. Salah satu poin yang terngiang-ngiang adalah pentingnya subuh bagi umat Muslim. Karena ternyata bahkan orang-orang sekuler sekalipun, sekarang sudah menyadari betul bagusnya subuh ini. Sudah bukan hal yang tabu lagi kalo orang-orang non Islam di luar sana sangat rajin bangun pagi. Berdasarkan penelitian kan sudah terbukti kalau udara paling bagus itu ada di subuh hari ddan pikiran kita sedang freh untuk mengerjakan sesuatu. Makanya kenapa para pengarang sebagian besar selalu menulis atau mendapat ilhamnya di subuh hari. Sementara umat Islam saat ini? Jawab sendiri aja deh. Masih untung mau shalat subuh.
Padahal salah satu yang ditakuti musuh Islam itu adalah kebangkitan para penganutnya yang diindikasikan dengan ramainya mesjid karena banyaknya orang yang berjama'ah di subuh hari. Karena itu, perlu dibiasakan dari sekarang kebiasaan menyambut subuh itu. Padahal kaum ibu malah suka membangunkan kaum bapak di Ramadhan ini hanya waktu masakannya sudah siap aja. Setelah iu, shalat subuh sambil ngantuk-ngantuk, tidur lagi. Kapan ya kejadian kondisi yang dirindukan oleh ustadz Yusuf Qardhawi itu, kondisi dimana para jamaah shalat subuh sebanyak atau setidaknya setengah dari jamaah ketika waktu shalat jum'at? Wallahu'alam bishowab.
Yup, sejak sore hari saya memang sudah niat untuk buka dan lanjut tarawih di mesjid Istiqlal. Sekalian mumpung belum pulang kampong jadi sebisa mungkin untuk bisa hadir dan ikut event yang diadakan selama bulan Ramadhan. Entah di mana saja. Yang penting dapat ilmu agama dengan baik dan benar. Berabe kalau sudah penempatan di daerah nanti. Bisa-bisa saya cuma bisa mengulum penyesalan karena tak sempat bertandang ke majelis-majelis ilmu di tempat besar, salah satunya ya seperti Istiqlal ini. Apalagi para pengisinya orang yang mumpuni semua. Yang hafalan Qur'annya luar bisa.
Acara di Istiqlal selama bulan Ramdhan hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi, ga ada yang namanya rasa bosan. Karena justru itu yang dinanti-nanti. Bulan Ramadhan malah semakin menambah geliat dan gairah para jamaah untuk meramaikan masjid. Karena itu, acara buka bersama yang selalu diadakan di mesjid Istiqlal menjadi momen paling mengasyikkan. Lihat saja kalo lagi buka bareng, jejerannya memanjang berkelok-kelok sampai ke ujung. Para petugas pun senantiasa siap menunjukkan arah "barisan siap berbuka" supaya tetap tertib dan rapih. Ta'jil? Jangan ditanya, sudah pasti gratisan dong. Mesjid besar ini selalu menyediakan ta'jil yang melimpah, baik hasil dari kas sendiri maupun donatur.
Semua kegiatan yang dilakukan secara berjama'ah senantiasa membuat saya bersemangat. Kenapa? Karena kesadaran saya semakin teryakinkan bahwa Islam itu sangat INDAH. Rereongan mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Mulai dari buka, shalat, zakat semuanya bertumpu pada satu titik, beribadah pada Allah.
Cuma kadangkala memang kekecewaan dari orang-orang yang apatis terhadap agama terutama Islam, senantiasa membuat gerah. Contoh, Islam tapi kok mulutnya ember, Islam tapi toiletnya bau sih. Mereka salah? Tidak juga kok. Namun kurang tepat mungkin. Seharusnya kan yang dikritisi orangnya, bukan agamanya. Karena segelintir orang yang ga bertanggung jawab terhadap ajaran agama yang diembannya itulah makanya orang-orang apatis itu langsung menohok labelnya. Mari berpikir dewasa teman :)
Ok, back to adzan. Ternyata, yang saya dengar tadi itu bukan adzan subuh. Jadi, di zaman Rasulullah SAW itu selama bulan Ramadhan memang selalu ada dua adzan. Adzan pertama oleh sahabat nabi, Bilal bin Rabbah dengan tujuan membangunkan orang untuk sahur atau melakukan shalat sunnah lainnya. Adzan kedua oleh sahabat nabi lainnya untuk melaksanakan subuh berjamaah. Bedanya, kalau yang pertama diselipi lafadz "assholaatu khoirumminannauum" Shalat itu lebih baik daripada tidur.
Masalahnya, adzan pertama ini ga terlalu mempan. Makanya petugas pada bawa toa juga karena ternyata setelah adzan pertama tadi masih banyak aja tuh yang merajut mimpi sampai ileran hahaha. Kebanyakan ibu-ibu lagi. Pas dibangunkan sama toa, padahal petugasnya sudah lemah lembut banget cara membuat para ibu tadi bangun, eh ibunya bilang " Saya lagi pusing, ngantuk ini" . Yah, i'tikaf ujung-ujungnya cuma memindahkan tempat untuk tidur.
The last but not least, seusai shalat subuh berjama'ah ada ceramah yang juga sangat menarik hati. Salah satu poin yang terngiang-ngiang adalah pentingnya subuh bagi umat Muslim. Karena ternyata bahkan orang-orang sekuler sekalipun, sekarang sudah menyadari betul bagusnya subuh ini. Sudah bukan hal yang tabu lagi kalo orang-orang non Islam di luar sana sangat rajin bangun pagi. Berdasarkan penelitian kan sudah terbukti kalau udara paling bagus itu ada di subuh hari ddan pikiran kita sedang freh untuk mengerjakan sesuatu. Makanya kenapa para pengarang sebagian besar selalu menulis atau mendapat ilhamnya di subuh hari. Sementara umat Islam saat ini? Jawab sendiri aja deh. Masih untung mau shalat subuh.
Padahal salah satu yang ditakuti musuh Islam itu adalah kebangkitan para penganutnya yang diindikasikan dengan ramainya mesjid karena banyaknya orang yang berjama'ah di subuh hari. Karena itu, perlu dibiasakan dari sekarang kebiasaan menyambut subuh itu. Padahal kaum ibu malah suka membangunkan kaum bapak di Ramadhan ini hanya waktu masakannya sudah siap aja. Setelah iu, shalat subuh sambil ngantuk-ngantuk, tidur lagi. Kapan ya kejadian kondisi yang dirindukan oleh ustadz Yusuf Qardhawi itu, kondisi dimana para jamaah shalat subuh sebanyak atau setidaknya setengah dari jamaah ketika waktu shalat jum'at? Wallahu'alam bishowab.
Selasa, 31 Juli 2012
Postingan Pertama di Ramadhanku
Hari ini, siang di kantor yang beku. Hm, ini postingan pertamaku, jadi sahabat semua Assalamu'alaikum bagi yang baru ketemu :)
Serasa menghirup udara segar, akhirnya jari-jari ini bisa kembali melonjak-lonjak kegirangan di atas tuts keyboard. Apa sebab? Karena lebih dari setahun ini passionate saya dalam mengisi blog sangat lemah selemah-lemahnya. Maklum, karena dukungan internet hanya mengandalkan modem, jadi, mau tak mau saya harus senantiasa standby untuk selalu mempunyai kartu yang kenyang akan kuota dan pulsa.
Nah, mumpung Ramadhan, saya ingin mengabadikan momen-momen penuh keberkahan dengan tulisan. Yups, setidaknya, ada selarik dua larik baris kalimat yang bisa saya setor setelah mendengar kajian. Hm, hitung-hitung menjadi tempat buku catatan sayA ^______^.
Langganan:
Postingan (Atom)






